Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Kudus – Grup musik Barasuara kembali merilis album baru mereka yang bertajuk 'Jalaran Sadrah' di Jumat (21/6/2024) kemarin. itu berisi sembilan lagu, termasuk tiga lagu yang lebih dulu dirilis tunggal, yaitu "Terbuang dalam Waktu", "Merayakan Fana", dan "Fatalis".

”Jalanan Sadrah artinya karena pasrah. Album ini terjadi, tertulis, terselesaikan karena pasrah,” kata Iga dalam keterangannya sebagaimana dikutip dari ANTARA, Jumat.

Proses pembuatan album dimulai pada Januari 2021 lalu saat para personel Barasuara berkumpul selama sepekan di sebuah vila di Puncak, Bogor. Mereka di sana hanya fokus menulis lagu baru maupun mengembangkan materi yang sudah ada.

”Hasilnya adalah album yang paling eklektik ini karena lirik-lirik di album ini banyak terinspirasi oleh berbagai peristiwa yang terjadi belakangan, seperti pandemi COVID-19 dan konflik Israel-Palestina,” kata Iga.

Gerald menambahkan, "Jalanan Sadrah" adalah album yang paling kolektif pengerjaannya. Di samping peran Gerald yang semakin besar dalam menggubah musik Barasuara, lagu berjudul "Hitam dan Biru" merupakan komposisi Puti Chitara, sedangkan Asteriska menyumbang lirik yang lembut untuk lagu "Biyang" dan "Terbuang dalam Waktu".

Album itu juga memuat berbagai elemen baru seperti aransemen orkestra dari Erwin Gutawa untuk lagu "Merayakan Fana" dan "Hitam dan Biru" yang dieksekusi oleh Czech Symphony Orchestra, serta nyanyian berbahasa Jawa dari Sujiwo Tejo untuk lagu "Biyeng" yang adem.

Dengan 'Jalaran Sadrah', Barasuara ingin menunjukkan mereka masih tetap eksis dan berkarya setelah 12 tahun berkarier di industri musik Indonesia.

TJ Kusuma mengatakan apapun elemen baru yang dimasukkan dalam ramuan album terbaru mereka, perpaduan vokal Iga, Asteriska dan Puti, kombinasi gitar antara dirinya dan Iga, dentuman bas Gerald serta pukulan drum dinamis oleh Marco akan tetap membuat musik mereka terdengar seperti Barasuara.

Baik itu lagu epik penuh lika-liku berdurasi enam menit lebih macam "Antea" maupun lagu Rock yang relatif simpel seperti "Etalase" dan "Manusia (Sumarah)".

”Album ini bentuk saling menerima, mendukung, dan mempertahankan serta bukti bahwa Barasuara masih bisa berdiri kuat meski ada rasa tidak nyaman waktu itu akibat situasi pandemi yang memusingkan,” kata TJ.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Hiburan Terkini

Terpopuler